Kemelut Hati (next)

Aku kembali asyik dengan duniaku sendiri, saat kusadari tak ada siapa-siapa disini.
“kapan mau berhenti melamun?.” Tiba-tiba saja dia menepuk bahuku, membangunkan aku dari lamunan yang entah sampai kapan aku akan larut di dalamnya.
Aku menoleh, menyunggingkan seutas senyum terpaksa yang aku bingkai semanis yang aku bisa, terhadapnya. Bukan karna aku tak suka pada orang ini tapi karna aku tak tega terus menerus mengabaikan kebaikannya yang entah kenapa tetap saja hangat meski aku sering mengacuhkannya. Dia tampak tersenyum lembut kearahku, manis seperti biasa. Lanjut membaca