Kemelut Hati (next)

Aku kembali asyik dengan duniaku sendiri, saat kusadari tak ada siapa-siapa disini.
“kapan mau berhenti melamun?.” Tiba-tiba saja dia menepuk bahuku, membangunkan aku dari lamunan yang entah sampai kapan aku akan larut di dalamnya.
Aku menoleh, menyunggingkan seutas senyum terpaksa yang aku bingkai semanis yang aku bisa, terhadapnya. Bukan karna aku tak suka pada orang ini tapi karna aku tak tega terus menerus mengabaikan kebaikannya yang entah kenapa tetap saja hangat meski aku sering mengacuhkannya. Dia tampak tersenyum lembut kearahku, manis seperti biasa.
“ah? Aku gak ngelamun, aku hanya ngeliatin ikan-ikan.” Jawabku mencoba menyembunyikan kemelut hati yang sedari tadi tak mau pergi.
“masih mau bohong? Aku sudah hafal kebiasaanmu.” Tuturnya lagi sembari menjajariku berdiri di tepi danau ini.
“dari kemarin kemana saja kau? Kau tak pernah membalas sms ku.” Tanyanya sambil menatapku lekat-lekat seperti biasa, menandakan dia sedang serius.
“emm, maaf, Aku bingung, bingung harus bagaimana. Memang akhir-akhir ini perasaanku sedang kacau, entah apa penyebabnya aku hanya ingin sendirian.” Jawabku. Menunduk merasa bersalah telah mengabaikan lelaki baik di sebelahku ini.
“kau masih belum bisa menghilangkan dia dari ingatanmu?” katanya sambil memelukku. Aku terdiam, lidah ku kelu, tak menyangka akan mendapat respon seperti ini.
“maafkan aku.” Isakku lirih.
“aku tahu, harusnya aku sadar diri. Aku bukanlah orang yang kau butuhkan, apalagi yang kau cari.” Katanya sambil menatapku lekat-lekat.
“maafkan aku udah bikin kamu gak nyaman selama ini, aku janji aku akan pergi dari hidupmu, aku gak akan lagi mengikatmu untuk kembali padanya, kau berhak bahagia. Aku melakukan ini karna aku sangat menyayangimu.” Bisiknya, sesaat kemudian dia mengecup keningku lama sekali seolah-olah enggan melepaskanku, dan setelah itu dia pergi.
Dan aku hanya bisa diam terpaku, melihat punggungnya menjauh dan menghilang di balik jembatan danau ini.
“jangan pergi, jangan pergi” teriakku…
Aku terbangun, dan ternyata aku sendirian dikamar ini.
“ah lagi-lagi mimpi buruk.” Batinku.

10 Respon untuk Kemelut Hati (next)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s