Posted in Uncategorized

Ini Buat Mamah

sumber gambar : http://wieqie.multiply.com/journal/item/54/Sisi-Yang-Tersembunyi-Di-Balik-Hati-Ayah

hari ini adalah hari senin waktunya pelajaran menggambar, pelajaran yang paling disukai elsa, dia begitu antusias dan dengan bangganya menunjukkan hasil gambarannya yang masih berpoleskan pensil berwarna yang sama sekali tak rata, dan cenderung amburadul disana sini

“bu guru, el sudah selesai menggambaranya”

“wah el hebat sekali, ini gambar apa el?”

” ini el, ini mamah, dan ini….. emm papah” ragu-ragu el menjelaskan hasil gambarannya kepada bu guru.

” loh? muka papahnya kok item?”

el menunduk, anak itu masih terlalu polos untuk mengerti apa itu kesedihan dan kerinduan.

“el gak pernah liat papah bu guru makanya el gambar muka papah item.. kata mamah, papah lagi pergi jauuuuuuh sekali, gak tau deh kapan pulangnya” bocah 5 tahun yang sedang duduk dikelas nol besar itu menjawab dengan polosnya.

seperti biasa sepulang sekolah, sambil menunggu mamanya pulang bekerja el akan bermain dengan teman-teman disamping rumahnya, kadang pula dia hanya duduk memandang iri teman-temannya yang sedang asyik bermain dengan ibu mereka.

“el….. ayo ikut main ”  salah satu teman el memanggil

” memangnya mau maen apa?” terdengar suara lucu el bertanya penasaran kepada temannya itu.

“kita maen rumah-rumahan yuk”

begitulah selanjutnya el dan temannya tengah asyik bermain saat seorang ibu-ibu memanggil teman el bermain itu.

“el aku pulang dulu ya? maen rumah-rumahannya dilanjutin besok, aku sudah waktunya tidur siang” teman el berceloteh

” wah kamu mau tidur siang? ditemenin mamamu juga? enak ya…..” kata el

” kamu mau juga? ayow tidur siang dirumahku,  nanti aku bilang mama biar el di bacain dongeng juga”

“boleh?” senyum el pun berkembang.

                terkadang saat menunggu mamanya sepulang sekolah el kecil akan ketiduran diteras rumahnya, dan saat dia bangun dan belum mendapati mamanya pulang, el kecil akan menggambar dikamarnya sampai tertidur lelap. begitulah kehidupan anak kecil itu, terlalu biasa-biasa saja untuk anak seumurannya, ke sekolah tak pernah diantar maupun dijemput oleh mamanya yang terlalu sibuk untuk meluangkan waktunya untuk el kecil.

“mah mamah minggu depan el pembagian rapor, mamah dateng kan?”

” iya sayang, tapi mamah gak janji ya? soalnya mama sibuk, nanti biar mamah telpon buguru kalo mamah gak bisa dateng, biar el bisa ambil rapor sendiri”

” yah…. el kan pengen mamah dateng, kenapa mamah sibuk?” suara el kecil selalu tampak lucu saat dia sedang penasaran bertanya.

” mamah harus kerja sayang, biar dapat uang”  el hanya diam saja, dia sudah menduganya, seprti biasa el harus mengambil rapor sendiri karna tak ada lagi yang bisa menggantikan mamahnya yang sibuk itu untuk mengambil rapor el.

ternyata percakapan el dan mamahnya pagi itu tak mempengaruhi harinya, seperti biasa el kecil akan selalu ceria saat tiba disekolah

“bu guru, ibu kok tidak bekerja kayak mamah el, ibu guru sudah punya uang ya?” celetuk el tiba-tiba saat jam istirahat.

” el.. ibu guru juga bekerja, tapi pekerjaannya ya menjadi bugurunya el, pekerjaan orang itu tidak harus sama, tetapi tujuannya sama biar bisa dapet uang”  buguru menjawab sambil keheranan dengan pertanyaan el.

” kalo el juga pengen punya uang, el juga harus bekerja ya bu?” tanya el polos.

” el kan masih kecil, belum waktunya bekerja, kalo el ingin punya uang el harus menabung” jawab buguru.

seperti mendapat suatu pencerahan el mulai tersenyum, dan merencanakan sesuatu yang menurutnya bisa merubah hidupnya.

              setengah 8, setengah 9……. el masih menunggu mungkin saja mamahnya akan datang untuk mengambil rapornya hari ini, dengan antusias el menunggu mamahnya di depan kelas. satu persatu teman el keluar dan pulang bersama papa atau mamanya setelah mengambil rapor.

“el kamu masih nunggu mamahmu ya?” tanya salah seorang temen el

“iya, mamah udah janji mau dateng hari ini” jawab el cemas. kaki kecilnya tak henti-hentinya berayun dari tempat duduk didepan kelas, sambil matanya tetap mengawasi pintu gerbang sekolah berharap mamahnya akan muncul seperti janjinya.

” kalo mamahmu gak dateng, kamu boleh kok ambil rapornya bareng mamaku, nanti aku bilang mama biar ambilin rapormu”

“nggak usah, aku mau tunggu mamah saja, mamah udah janji kok”

          stelah hampir putus asa el menunggu mamanya didepan kelas el mulai berinisiatif menunggunya di depan gerbang sekolah, el kecil mulai berkeringat, wajahnya mulai pucat karena depan gerbang yang panas dan el belum sarapan.

          entah sudah berapa lama el menunggu di depan gerbang itu, matahari pagi pun sudah mulai beranjak menjadi siang, tapi el tidak beranjak dari tempatnya, dilihatnya jalan raya yang penuh dengan kendaraan itu berharap mamanya ada di salah satu diantara mereka, el terus menunggu sampai akhirnya el tak bisa melihat apa-apa, semua hitam.

el tak ingat apa-apa sampai akhirnya saat dia tersadar dan membuka matanya, el mendapati mamanya sedang menangis tersedu-sedu disampingnya, disamping tubuh mungilnya yang sedang terbaring di sebuah kasur berwarna putih itu.

“mah, mamah kok el disini? kok mamah juga disini? mamah tadi kemana aja? kok gak dateng? mama lupa ya hari ini el ada pembagian rapor”  kata el sambil memegang kepalanya yang masih pusing

“el… el sudah sadar sayang?” sambil tersedu-seddu mama el memeluk dan mencium el. sudah lama rasanya el tak pernah merasakan seperti ini, di peluk dan dicium oleh mamanya, dia sangat senang sekali meski dia agak kecewa karena mamahnya tidak datang tadi pagi.

“mamah, mamah sibuk sekali ya bekerjanya? biar dapet uang ya?” tanya el lagi.

sambil memegang tangan el yang mungil mamanya menunduk tak tau lagi harus bagaimana. sambil merogoh saku di seragam sekolahnya el menyerahkan sejumlah uang receh yang iya bungkus dengan plastik.

“mah, ini uang el buat mamah, biar mamah gak usah bekerja lagi buat nyari uang, tapi masih segini sih, nanti el nabung lagi deh biar uangnya lebih banyak, biar mamah gak sibuk lagi kalo waktunya el pembagian rapor” kata el polos, tampak keseriusan terpancar dari sudut matanya.

sambil berkaca-kaca tak kuat menahan tangis mamah el menerima sejumlah uang receh itu, akhirnya dia tau mengapa el sampai pingsan saat menunggunya didepan gerbang sekolah, mengapa el tidak pernah membeli sarapan pagi disekolah,  ternyata dia sudah mengorbankan uang jajannya untuk memberinya uang. Terlalu banyak hal-hal kecil dari el yang dilewatkannya, tapi waktu takkan mungkin diputar ulang.

“iya, iya sayang mama janji mama akan ambil rapornya el, mama juga akan antar jemput el, kalo perlu mama akan berhenti bekerja dan nemenin el bermain dirumah sepulang sekolah” kata mamanya sambil menangis haru memeluk el, dia merasa bersalah, sangat bersalah, dia baru menyadari betapa el butuh dirinya untuk tumbuk menjadi seorang dewasa.

el pun tersenyum lega, dalam hati el berkata.

“ternyata harus begini caranya”

*cerita ini diikutkan dalam Elfrize kategori fiksi*

Penulis:

sooner or later it's over

5 thoughts on “Ini Buat Mamah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s