Posted in Awan biru, Duniaku

Please

“Cal besok temenin aku ke toko buku ya?” suara kecil livi melengking saat berteriak memanggil ical, panggilannya buat pascal sahabat kecilnya itu

“ ngapain vi? Mau beli buku dongeng lagi ya? Kita kan udah besar, kok masih baca dongeng aja sih?” protes Ical kecil yang merasa dirinya sudah besar dan selalu nggak mau membaca buku dongeng.

“ ah emang apa yang salah dengan baca dongeng? Aku suka kok, pokoknya aku nggak mau tau besok kamu anterin aku ke toko buku pulang sekolah” rengek Livi.

“yaudah deh, pulang sekolah besok tunggu aku di gerbang sekolah ya? Udah jangan nangis lagi, kayak anak kecil” seru ical sok dewasa.

Begitulah keseharian 2 sahabat kecil itu, bermain bersama, sekolah bersama, semuanya lebih banyak dilakukan bersama. Mereka memang masih belum mengerti apa-apa tentang hidup ataupun cinta, tapi diluar itu mungkin rasa saling menyayangi itu sudah dimulai sejak saat ini.

“ aduh lama banget sih ical, awas ya nanti kalo datang aku jewer deh kupingnya biar tau rasa” batin Livi. Dia sudah mulai kesal nunggu Ical yang tak kunjung datang itu.

“ ayo sayang, Livi nunggu apa disini? Kita pulang sekarang ya?” seru mama Livi heran melihat anaknya yang tetep keukeuh berdiri didepan gerbang sekolah.

“nggak mau ma, Livi mau nunggu ical kemaren ical janji mau ikut ke toko buku nemenin beli dongeng”.

“ udah ke toko buku sama Icalnya lain kali aja, sekarang sama mama aja yuk?”

“ ical bohong, ical pembohong…. Ical gak nepatin janji, Livi gak mau temenan lagi sama Ical” kata Livi sambil menangis tersedu-sedu.

Ical yang ternyata lupa dengan janjinya pada Livi itu, langsung pulang menuju rumah tanpa sadar kalau dirinya sedang ditunggu Livi. Ical baru teringat dengan janjinya dengan Livi saat dia baru sampai dirumah. Tanpa pikir panjang lagi Ical kecil langsung mengambil sepedanya dan kembali ke arah sekolah berharap Livi masih disana menunggunya.

“ vi, maafin Ical ya? Kemaren Ical lupa, pas Ical balik kesekolah Livi sudah pulang” kata Ical sambil menunduk merasa bersalah.

“ Livi nggak mau lagi temenan sama Ical, ical suka bohong” seru Livi yang masih marah dengan Ical.

“ iya vi, Ical janji deh Ical gak bakal Lupain janji ical lagi, suer deh” kata ical lagi sambil mengacungkan jari kelingkingnya seperti biasa tanda bahwa sebuah janji baru saja dibuat.

“ janji?” kata Livi mengaitkan jari kelingkingnya juga

“janji” jawab Ical dengan sumringah.

Seiring berjalannya waktu Ical kecil pun tumbuh menjadi seorang Pascal dewasa, dan Livi juga tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang selalu membuat kagum seorang Pascal saat menatapnya.

“ngeliat apaan sih kamu cal? Ngeliat aku kok kayak ngeliat hantu?” kata Livi setiap Pascal sedang asyik melamun sambil menatap wajah Livi yang cantik itu.

“ah eh.. nggak hehe, eh Vi bisa nggak sih kamu ganti kebiasaan manggil ical? Panggil Pascal aja deh, malu kan didengar orang, kayak panggilan anak manja aja”

“yeee… nggak mau, aku kan udah dari kecil manggilnya, masak ganti sih? Gak enak, lagian gak usah dari nama juga keliatan kalo kamu anak manja “ ledek Livi seperti biasa saat Pascal membahas masalah nama panggilannya itu, dan kemudian seperti biasa Livi akan tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi sebel Pasacal.

Pascal memang nggak suka dipanggil Ical, tapi lama-kelamaan dia menikmati panggilan itu, panggilan yang selalu bisa membuat Livi tertawa lepas, dan Pascal takkkan melewati moment penting seperti itu. Tak ada habisnya Pascal mengagumi kecantikan sahabatnya itu, rasa yang sudah ia pendam yang entah sejak kapan mulai tumbuh itu tak pernah berani dia ungkapkan, ketakutan terbesar yang ia khawatirkan adalah saat cintanya bertepuk sebelah tangan dan persahabatannya dengan Livi akan hancur begitu saja.

Yang bisa Pascal lakukan hanyalah menikmati hari-harinya bersama Livi dan perasaanya itu untuk dirinya saja, tak seorangpun yang tau termasuk Livi.

“emm cal, aku mau cerita sesuatu ke kamu” kata Livi suatu hari.

“ cerita? Apaan?” kata Pascal penasaran.

“ sebenernya aku deket sama seorang cowok, dan kita jadian sebulan yang lalu”

“ kamu gak pernah bilang kalo kamu sudah punya pacar” kata Pascal bingung

“ iya, maaf cal… aku pingin ngasi surprise buat kamu hehe, gimana? Kamu gak mau ngasi selamat sama aku?” kata Livi

Tak tau apa yang dia rasakan saat ini, Pascal merasa ini saatnya ia mengungkapkan persaannya pada Livi, dia bukan tidak peduli begitu saja melihat Livi menjadi milik orang lain, sedangkan ia sudah memendam perasaannya jauh sebelum dirinya sendiri menyadari itu. Dia nggak terima Livi takkan bisa jadi miliknya.

“ vi, aku sayang sama kamu, sayang banget… dari dulu vi, aku hanya belum berani mengungkapkannya vi, jadi please jadilah milikku, jadilah tokoh dongeng dalam ceritaku, aku gak bisa bayangin apa jadinya kalo kamu sama orang lain” kata Pascal bingung, sedih, semuanya tercampur jadi satu.

Kaget Livi mendengar pernyataan Pascal yang tiba-tiba itu, tapi toh meski Pascal sangat menyayanginnya, meski Livi dulu ternyata pernah mengharap perasaan Pascal, meski yang tersembunyi itu sudah terungkapkan, semua itu takkan bisa merubah apapun.

“ nggak, kamu nggak sayang sama aku” jawab Livi sambil menahan sebisa mungkin genangan air matanya.

“aku sayang sama kamu vi, sayang banget vi percayalah”

“kamu nggak tau cal selama ini aku nunggu kamu, nunggu cal… nunggu kalau suatu saat kamu akan suka sama aku, sayang sama aku, tapi ternyata kamu gak sesayang itu ke aku, buktinya buat ngomong aja kamu gak berani, dan sekarang semua itu udah gak penting aku sudah menemukan tokoh dongengku sendiri cal, maaf ” genangan air itu sudah tak bisa ia tahan lagi.

“ satu hal lagi cal, kalau suatu saat kamu punya rasa sayang pada seseorang, bilang aja ya cal, bilang… jangan sampai dia gak tau kalau ada orang yang luar biasa banget sayang sama dia. Dan kamu… masih sahabat baikku cal” sambil memeluk Ical sahabatnya itu, tangis Livi sudah tak bisa ditahan lagi

Sejak saat itu nama Livi tak pernah muncul lagi di layar ponselnya, tak juga terdengar suaranya di hape, tidak dimana-mana. Hidup Ical kembali normal, alarm hapenya kembali berdering tepat waktu, tak ada lagi yang biasanya menyapa di pagi buta hanya sekedar untuk berkata “ayo bangun”, semua kembali sama, namun Pascal  bukan orang yang sama.

Ada kekosongan yang tak bisa di jelaskan. Dia berfungsi, tapi sebagian dirinya seperti bermutasi menjadi zombie, ya….. seperti mati.

Penulis:

sooner or later it's over

13 thoughts on “Please

  1. dan Pascal diubah menjadi Ical …😀
    simple but nice mii, sukaa.

    boleh ngasih pendapat? dialog di awal kalimat harusnya ditulis kapital dan pake koma atau titik di akhir dialog:
    “Hey mi,” kataku.
    “Halo ilmi.” Aku berkata.
    *hueee sok banget ini orang soal EYD* maap kalo sok tau mii :p

  2. Hadehh.. si Livi juga g bakal lama sama pacvarnya soalnya dia udah cinta duluan sama ical. Sabar cal abang belain, wekekekekkek
    Ayo dong Sist Ilmii satuin Ical, kasihan kemarenan nangis di rumah gue, katanya mau bunuh diri pake tali,
    Gue bilang ” Jangan pake tali bikin wajah loe jelek, kalo kegantung lidah loe bakal keluar kayak anjing!”
    “Trus pake apaan?”
    ‘pake otak dong!! terserah deh!”
    “Pake pisau bang?”
    “Jangan! ntar baju loe kotor kena darah, kasihan emak loe”
    “Kalo gitu aku telanjang aja!!” Katanya sambil usap-usap matanya yang sembab
    “Jangan emang mau masuk korang bugil, kayak bintang porno aja”
    “Trus?”
    Gue menghela nafas, membuang rokok yang barusan gue hisap.
    “Oke! besok gue mintain ke ilmii biar loe disatuin sama Livi, lagian kemaren kayaknya livi udah putus ma mantanya!”
    “Beneran bang?”
    “Iye..”
    “Makasih bang makasih.. abang emang baik.”
    “Eeaa itu mah dari dulu. tapi jangan lupa traktiranya yak?!”
    Ical garuk-garuk kepala, “Saya lagi bokek Bang!”
    Hadehh sialan, ternyata namanya aja Ical, gue kirain orangnya kaya kayak Ical, Aburizal bakrie. heehh ;-/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s