Posted in Duniaku, pelangi senja

Andai saja

               “Maaf ya saya tidak bisa mengajar hari ini, saya copy-kan materinya saja ya”.

          Mata Tesla seketika berbinar senang. Memang hari ini dia lagi gak mood untuk dapat materi kuliah yang bla bla bla itu, sebagai gantinya dia berkaraoke ria dengan teman-teman sekelasnya yang memang tak banyak. Sejenak mungkin dia bisa melupakan masalahnya dengan pria itu yang sejak tadi malam membebani pikirannya. Mengabaikan rasa marah yang bersarang dihatinya tanpa pernah bisa dikeluarkan, tak pernah.

            “h..h..h… sudah jam setengah sebelas”. Batinnya.

           Dengan langkah gontai kembali ia melangkah menuju kelas berikutnya dengan malas. Mengambil posisi duduk di depan sembari langsung mengeluarkan sebuah novel berjudul “silent scream” yang sudah lama belum selesai dia baca memang salah satu cara untuk mengalihkan pikirannya yang kacau.

            “ wah Tes, kamu belum selesai juga baca nih novel?”.

            “hehe belum, nih lagi ngelanjutin baca”. Jawabnya sambil berusaha nyengir lebar.

            Mereka tak tau saja kalau itu hanya alasan untuk menutupi kebingungannya, kemarahannya, kesedihannya atau entah apalah itu dengan menghadap kesebuah buku yang sama sekali tak masuk di otaknya.

             “eh Tes tau nggak tadi aku mimpi”. Kata Rina saat mereka menuju ke kantin

            “mimpi apa?”.

            “aku mimpi marahin kamu sampai kamu berubah sikap”.

            “maksutnya”.

           “tadi malam aku mimpi, kamu Tanya sesuatu udah kujawab tapi mungkin kamu gak dengar, trus kamu Tanya lagi sampai akhirnya aku marah dan marahin kamu habis-habisan sampe kamu beruah jadi pendiam di keseharianmu”.

            “hah?” sekali Tesla tertegun.

           Rasa tak enak itu kembali muncul, sebisa mungkin Tesla menyembunyikannya, menyembunyikan kemarahan dan kesdihan yang datangnya bersamaan itu.

          Tidak, aku masih orang yang sama, pria itu tak kan merubah apapun. Aku akan tetap mencoba menjadi seperti biasanya. Andai orang-orang itu tahu seberapa besar usahaku untuk tetap menjadi aku, andai aku tak mengangkat telpon dari pria itu, andai aku… arghhhhhhhh…

           sekarang semuanya sudah percuma, semuanya sudah terjadi, kemarahan, kesedihan, dan entah rasa apalagi yang saat ini sedang bersarang tak rapi dalam hatinya membuatnya seolah sudah bermutasi menjadi zombie.

       “Andai pria itu tak ada hubungan darah denganku, arrghhhhhhhh…” butir-butir bening itu kembali menggenang dan mengalir membentuk aliran sungai kecil dipipinya.

 Everybody thinks i’m happy and fine

but try to look a little closer

u’ll see tears in my eyes

Penulis:

sooner or later it's over

15 thoughts on “Andai saja

  1. ciee yang lagi galau hagz. hagz. Dan kenapa namanya pake Tesla segala?
    tak pikir Rina itu cowok tadi abis di paragraf akhir tiba-tiba ada cowoknya waktu baca ulang baru ealaahh …😛
    typo dikit mi: maksut –> maksud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s