Posted in Awan biru, pelangi senja, Untukmu

Mum, Dad I Miss U

Dia lenyap tanpa kabar selama beberapa masa dan sudah terlalu banyak kemarahan dan dendam yang dihasilkannya. Mili duduk dipojokan kamarnya, menangis. Anak itu, sudah terlalu lama dia menahan pedih yang menggantung dan membayangi sudut matanya. Ada banyak luka, dan pedih tertahan yang menyertai langkah gadis itu pergi ke daratan Australia.

Sebuah langkah Langkah kecil demi sebuah Impian yang besar…….

Itulah yang tertanam dalam benak gadis ini,  Mili, Untuk pertama kalinya ia harus memberanikan diri tinggal di kota yang penuh hiruk pikuk ini seorang diri.

Kesulitan ekonomi yang dialaminya sekarang tidak begitu menorehkan luka dihati Mili. Namun lelaki yang sedianya bertanggung jawab atasnya malah seolah-olah tak menginginkannya.

Seribu belati menorah telak dihatinya.

“ sabar ya” alih-alih hanya kata itu yang sering didengarnya saat sesekali lelaki itu menelponnya.

Tapi apa maknanya bagi anak remaja yang sedang mencari jati diri di negeri orang tanpa ada satu orang pun yang peduli? Tidak ada, selain rasa terjebak yang semakin dalam, di rongga labirin.

“ huh, bikin kesal saja, ngapain sih menelpon kalo hanya untuk bilang sabar? Memang sudah tak ada kata lain yang bisa dimakan?.” Mili semakin menggerutu tak karuan dipojok kamar, dia mulai mencoreti lembaran-lembaran kertas apa saja yang ada di hadapannya, kesal.

Mili beringsut menuju meja belajarnya, mengambil sebuah ponsel keluaran lama dan mencoba mengirim sebuah pesan singkat kepada ibunya.

“Mum, I miss u”. Sent.

Tak ada balasan, seberapa lamapun ia menunggu Mili tak mungkin mendapatkan balasan. Matanya semakin pedih menahan genangan air mata. Dia tak pernah mengetahui kenapa ibunya pun begitu membencinya, sampai akhirnya dia melihat wajah Ayahnya disebuah foto sedang tersenyum bahagia dengan seorang gadis kecil disampingnya. Mili begitu mirip dengan Ayahnya bahkan sejak ia kecil.

Mili membayangkan wajah Ayahnya saat dia berusia 5 tahun, samar. Semuanya baik-baik saja sebelum Ayahnya meninggalkannya dan ibunya entah apa alasannya, dan kemudian ibunya mulai membenci Mili karena wajahnya yang sangat mirip dengan Ayahnya, melihat Mili ibunya seperti melihat setan, kemudian dengan kalapnya berteriak-teriak. Saat itu Mili terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi.

“Tidak, tidak, lelaki itu tak berhak menghancurkan hidupku begini”. Mili menggeleng keras, berusaha mengenyahkan segala pikiran tentang kemungkinan apa yang membuat lelaki yang dipanggilnya Dad itu pergi.

Mili meraih kotak hitam kecil yang disimpannya didalam laci meja belajarnya. Ada dua foto disana, gambar seorang pria muda yang sedang menggendong seoarang anak perempuan kecil bersama seorang wanita disampingnya, bahagia. Yang kedua, gambar seorang lelaki paruh baya yang sedang menggendong seorang anak perempuan yang hampir mirip dengan anak perempua difoto pertama menghadap ke kamera dan memamerkan kebahagiaannya, ya foto itu adalah foto Ayah Mili dengan putrinya dari istri barunya.

Sekarang anak itu memandanginya dengan sorot mata lugu dan bening dari dalam foto.

“Bitch….”. Umpatnya.

Kemarahan seketika memenuhi rongga dadanya, darah seketika mendesir dikepalanya saat dia membayangkan anak kecil itu dan ibunya yang entah siapa sedang bahagia melihat nasibnya terlunta-lunta.

“Dad, maafkan aku yang dulu pernah berjanji akan menemanimu dimasa tuamu”. Bisiknya lemah.

“ Mana aku tau Dad akan meninggalkan wanita yang kupanggil Mum, demi wanita jalang itu?”.

“Mana aku tahu kita akan sejauh ini dan aku hanya bisa mendengar suara Dad sesekali dari seberang sana?”

“Mana aku tahu kini aku memandangi Dad dengan mata merahku, kesepian.”

“Mana aku tahu, Dad begitu tak menginginkanku karena Dad merasa aku selalu membela wanita yang ku panggil Mum?”.

Sekali lagi air matanya mengalir tak tertahankan. Dia kesepian. Sekali lagi dia check ponselnya barangkali sesuatu yang sangat ditunggunya muncul dilayar ponselnya.

Tak ada apa-apa. Sekali lagi dia berbisik “Mum, I miss u” kata-kata yang sering diulanginya saat dia benar-benar merasa sendiri didaratan ausie ini. Sambil memandangi foto Ayah-ibunya saat mereka masih bahagia, sepertinya. Dia tak begitu menghiraukan teriakan perutnya yang meminta haknya untuk diisi, memangnya kenapa? Kenapa dia harus mengisinya? Toh dia juga tak punya uang sepeserpun untuk itu.

Membayangkan dirinya terlantar membuat perutnya semakin mual saja, rasa sedih itu perlahan berubah menjadi rasa dendam, kepada siapa? Ayahnya? Ibunya?.

“Turuti saja keinginan mereka, pasti itu yang terbaik mereka tidak mungkin menjerumuskan anaknya”. Sebuah suara entah dari mana berbicara.

“Tidak, mereka tak menginginkanmu, kau hanya dianggap beban oleh mereka”. Tetapi suara lain lebih keras berbicara dikepalanya, menambah rasa dendam didadanya.

Mili membayangkan isak tangis tertahan diseberang samudra sana. Dia bukannya tak paham dengan kesulitan ibunya yang berusaha keras menerima keadaan Mili tanpa mengingat sakit hatinya kepada Ayahnya. Tapi sekarang bukan hanya itu yang Mili butuhkan, bukan hanya pengakuan yang ia butuhkan, kepedulian, kasih sayang, dan yang paling penting financial sangat ia butuhkan sekarang sebelum keputus asaan dan dendam menguasai hidupnya.

Hidup terlunta-lunta tanpa uang sepeserpun di negeri orang bukanlah hal yang mudah untuk remaja seumurannya. Dia harus berjuang melawan semuanya.

“Mili, kenapa jarang mengangkat telpon Dad?. Sudah mulai berani kamu sama Dad? Iya?”. Suara Ayahnya kecil tapi terlalu keras untuk disebut dengan sebuah ucapan apa kabar di telpon.

“Maaf Dad, Mili lagi sibuk kuliah dan kerja disini”. Kilahnya.

“Kamu mau jadi anak durhaka? Iya? Jangan mentang-mentang kamu sudah pinter sampai kamu mau melawan orang tua, jelek-jelek begini aku masih Dad mu, jangan kurang ajar kamu, kenapa? Apa hanya karena Dad jarang kirim uang lalu kamu tak mau mengakui Dadmu? Seharusnya kamu bisa berfikir disana, Dadmu disini juga sedang kesulitan uang jadi wajar kalau Dad jarang kirim uang padamu”.

“Apa Dad? Hanya karena Dad jarang kirim uang? Hanya? Dad bilang itu hanya?”. Kemarahan Mili mulai memuncak, sekuat mungkin dia menahan amarahnya itu. Sebagai gantinya air matanya jatuh menetes tanpa isak.

“Sesulit-sulitnya Dad disitu Dad masih bisa tidur nyenyak Dad, Dad masih bisa makan, apa Dad tidak pernah berfikir Mili disini makan apa?, tinggal dimana? Hidup dengan apa? Dan Dad bilang itu hanya?”.

“Kenapa kamu jadi marah-marah sama Dad? Apa salah Dad? Semakin besar kamu semakin kurang ajar saja, kamu sama saja dengan ibumu, uang saja yang dipikirkan. Kenapa tidak berfikir kalau disini Dadmu ini juga sedang kesulitan? Kamu tak mengerti bagaimana sulitnya mencari uang, apa kamu pernah memikirkan selain uang? Apa Dadmu ini sudah mati? Atau masih hidup? Apa kamu pernah berfikir itu?”. Tambah Ayahnya berapi-api.

Tetesan air mata itupun berubah menjadi isak tangis tertahan, bahunya berguncang menahan amarah. Sebisa mungkin dia menahan amarah bercampur dendam kepada lelaki yang ia panggil Dad itu.

“Dad akan baik-baik saja disana, ada istri Dad yang membuat Dad meninggalkan Mum dan aku disana, ada anak Dad yang akan merawat Dad disana, bagaimana dengan aku? Apa Dad pernah berfikir dengan siapa aku disini? Siapa yang ngerawat aku kalo aku sakit, siapa yang bakal tau kalo aku mati? Nggak ada Dad. Mili sendirian disini”. Suara Mili gemetar menahan benci dan dendam kepada lelaki yang dipanggilnya Dad itu.

“Dad nggak usah bawa-bawa nama Mum, nggak usah nyalahin Mum, Mili yang salah Dad, Mili yang selalu jadi beban buat Dad dan Mum, ini masalah Dad dengan Mili bukan dengan Mum, Dad. Apa Dad masih bisa berpikir aku akan baik-baik saja disini setelah hampir setahun Dad tak ada kabar, setelah hampir setahun juga Mili berjuang untuk hidup disini?” Amarah itu semakin memuncak.

“Bagus, bela saja terus ibumu itu, kamu itu masih kecil sudah sok menceramahi orang tua, kamu masih butuh uang Dad apa tidak? Jawab, masih butuh uang Dad apa tidak?”.

Mili tertegun, Ayah macam apa yang bertanya pertanyaan seperti itu kepada anaknya, kepada anak kandungnya yang memang sedang sangat membutuhkannya.

“ssttt, sudahlah jangan terlalu keras, dia masih anak kecil sayang, biar aku yang bicara dengannya”. Samar tapi terdengar suara seorang wanita di seberang sana.

“apa? Sayang? Dasar wanita jalang, itukah rayuan yang kau gunakan untuk mengambil Dadku?”. Batin Mili mengumpat kesal mendengar suara wanita yang sepertinya istri dari Ayahnya itu.

“Hallo Mili sayang”.

“Hello bitch…” Mili menjawab dengan kesal yang memuncak, panggilan sayang itu sungguh tak enak dikupingnya,

“Mili, jaga mulut kamu, sejak kapan kamu jadi gak punya aturan begini?”. Pasti Ayahnya sedang berteriak dibelakang wanita itu. Sentakan itu begitu keras dan efeknya Mili melotot hebat didepan ponselnya.

“sssttt, sudah mas, aku ngerti kok.” Suara wanita itu menimpali.

“Mili, ibu minta Mili yang sabar ya sayang, Dad disini juga butuh dingertiin, bukan Cuma Mili saja”.

“hah? Ibu? Aku udah punya ibu dan itu bukan kamu, bitch. Gak usah sok bilang sabar deh, gak penting tau nggak? Keluarga ku berantakan itu gara-gara kamu, tau diri dong”. Amarah Mili sudah memenuhi ubun-ubun, dia sudah tak peduli Ayahnya bakal seperti orang kebakaran jenggot mendengar umpatan-umpatan Mili untuk istrinya itu.

Mili menggemeretakkan gerahamnya, tak ada suara lagi hanya suara angin dari elektrik fannya yang membuat nafasnya semakin sesak. Telpon terputus.

Dalam hidup bahkan dalam mimpi, akan selalu ada orang yang kamu benci sepenuh hati. Dan bagi Mili, itu adalah Ayahnya.

“Dialah yang membangkitkan iblis dalam diriku, dialah alasan utama aku senang tertawa, karena aku bahagia, karena aku ingin orang-orang tau aku bahagia yang tak pernah diperlakukan seperti anak yang tak diinginkan oleh Dad dan Mumnya sendiri, karena aku kuat, yang nggak menggantungkan kebahagiaanku kepada siapapun, yang selalu tersenyum, dan bisa melakukan apa saja.” Iblis yang tiba-tiba menyeruak pun seolah-olah ingin melakukan pembalasan, tapi pada siapa?…

Tritiiittt…..

Mum…

“Mum?, iya mum” Rasa bahagia menyeruak tak terbendung membuat air matapun tak terasa mengalir.

“Mili, ngomong apa kamu sama Dadmu? Udah Mum bilang gak usah ngurusin Dad kamu, kamu itu ya dibilangin tetep aja ngambil keputusan sendiri, kalo kamu ngurus diri sendiri saja nggak becus nggak usah sok ngurus urusan Dad sama Mum, urus aja sekolahmu itu”. Telpon terputus.

Mili tertegun.

“Mum?…. Mum?… Mum… hiks hiks” kesunyian kembali merasuki hatinya. Dingin, sepi.

Ternyata tetap saja, tak ada yang tersisa, tidak juga harapan. Sekarang dia harus membiasakan dirinya untuk menghadapai kenyataan.

Tiba-tiba saja keputus-asaan menguasai segalanya, secepat mungkin Mili berlari mencari apa saja yang dibutuhkan oleh keputus asaan itu, apa saja. Tangannya meraba-raba seluruh isi laci yang memang tak ada isinya, Nothing. Keputus asaan itu menuntut lebih banyak untuk segera di penuhi.

Mili berlari menyusuri tangga apartemennya, sampai disuatu tempat dimana dia bisa tertawa sepuasnya tanpa ada yang mengganggu. Menertawakan hidupnya dan sekedar meyakinkan dirinya bahwa dia masih hidup, setidaknya sampai hari ini.

“sekotor apapun dunia ini, sebrengsek apapun dunia ini, seenggaknya aku masih punya waktu dan kekuatan untuk mengutuknya”. Mili menatap langit, semuanya terasa indah.

Tanpa terasa Mili mulai melangkah selangkah demi selangkah semakin kepinggir merasakan sejuknya udara di atap gedung apartemennya. Terlintas dibenaknya saat itu, saat keluarganya masih utuh dan bahagia, Mili tersenyum. Melintas kemudian bayangan seorang wanita yang sangat dibencinya, samar-samar dengan suaranya yang terasa memekakkan telinga, sekali lagi Mili tersenyum. Terakhir ingatannya berlabuh pada masa kanak-kanaknya yang sangat bahagia, masa yang selalu Mili rindukan.

“Mum, Dad, I miss U”. air matanya mengalir, sesaat sebelum semuanya terasa ringan, badannya melayang seperti tak ada beban, Mili tersenyum sebelum badannya membentur trotoar jalan di depan apartemennya, dan semua menjadi gelap.

Gambar : rancupid.blogspot.com

Penulis:

sooner or later it's over

2 thoughts on “Mum, Dad I Miss U

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s