Posted in Awan biru, pelangi senja

Gerimis

gerimis

           Rintik gerimis itu yang selalu ku suka, aku selalu suka menghabiskan waktuku duduk di depan jendela kamar selama ber jam-jam hanya untuk memandangi gerimis itu, ya gerimis itu. Entah kenapa gerimis seolah bercerita kepadaku, tentang dunia nun jauh disana, dunia yang bukan seperti duniaku sekarang. Tiap kedatangannya gerimis selalu membawa berita tentang dunia itu, perkembangannya, keindahannya, dan semua hal yang tak bisa ku temui di duniaku sekarang.

         Semakin lama, aku tak hanya dapat melihat dan memperhatikannya saja, gerimis itu telah membawaku kedunia itu, ah dunia impianku. Aku bisa melihat langsung kota-kota yang dikelilingi sawah-sawah hijau nan asri. Bersepeda mengelilingi bukit. Berlama-lama di taman sambil melihat bunga yang sedang bermekaran, dan ah… masih banyak lagi yang bias ku lakukan di dunia itu, dunia dimana sang gerimis membawaku.

“hai….”

             Terdengar suara yang menyapa, entah dari mana asalnya, bahkan akupun enggan untuk mencari sumber suara itu saat aku sedang menikmati gerimis.

“kamu suka sekali dengan gerimis ya?”

“iya”

        Setelah bertanya ini itu, suara itupun hilang entah kemana, dan akupun tak berusaha mencegahnya atau bahkan mencarinya. Semakin lama aku semakin larut dengan dunia baruku, aku mulai tak memperdulikan hiruk pikuk dunia asalku.

“hai”

Ah suara itu lagi, batinku. Semakin aku tak memperdulikannya, semakin aku ingin membalas sapaannyaa.

“hai juga”

            Aku membalasnya lirih, aku sebenarnya masih enggan untuk di ganggu oleh siapapun. Aku hanya ingin sendiri menjelajahi dunia baru ini. Tapi suara itu semakin dekat, dia mulai bercerita ini itu tentang sebuah dunia yang…… hei, itu duniaku, dunia gerimisku. Aku mulai tertarik dengan ceritanya. Tentang dunia baruku yang ternyata memang tempat tinggalnya. Banyak yang aku tidak tau tentang dunia itu dan itu semakin membuatku tertarik dengannya.

              Terkadang kita bersama-sama menjelajahi taman bungan yang sedang bermekaran. Semakin lama aku semakin mencintai duniaku yang sekarang, entahlah… seperti tak ingin kembali lagi ke dunia lama.

          Musim pun berganti, sang gerimis semakin jarang datang dan akupun semakin jarang pula mengunjungi duniaku. Suara itupun semakin jarang datang. Ada apa ini? Aku tidak ingin semuanya berubah.

“apa yang kamu pikirkan sayang?”

            Aku mendengar mama menyapaku, dan entah mengapa suara mama serasa lain, serasa asing. Bukan, bukan suara ini yang sering berbincang-bincang denganku. Bukan suara ini juga yang biasanya menemaniku berkeliling di duniaku, ah… ya dunia gerimisku.

            Musim panas datang, dan gerimisku tak akan pernah datang. Suara itu juga menghilang. Berganti dengan suara orang-orang yang silih berganti mendatangiku, mengucapkan selamat bagiku, entah buat apa.

“ma…. Ada apa ini?” Tanya ku di suatu pagi yang sangat cerah. Aku tercekat mendengar suaraku. Seperti ada memori usang yang berusaha mencuat keluar bersamaan dengan keluarnya suaraku. Tapi sekali lagi entah apa itu.

“kamu benar-benar gak ingat apa-apa sayang”

Aku menggeleng lemah. Aku masih tidak mengerti.

“Sudah 3 bulan kamu terbaring disini, koma. Dokter bilang sudah tidak ada harapan lagi, tapi mama yakin suatu hari kamu pasti akan bangun kembali sayang”

             Sambil terisak mama menceritakan tentang keadaanku yang menurutku tak masuk akal itu. 3 bulan? Koma? Padahal aku baik-baik saja. Baru kemarin aku terakhir berkeliling di dunia itu, dunia yang gerimis bawa kepadaku sebelum gerimis dan suara itu hilang.

“koma? Tapi gerimis itu?” tak kuasa aku melanjutkan kata-kataku saat aku tersadar ternyata itu suaraku, suara yang hilang itu suaraku, suara yang aku rindukan itu ternyata suaraku. Suara itu berasal dari kepalaku sendiri.

“ya sayang….. setiap gerimis datang mama selalu membawamu untuk duduk di samping jendela menikmati gerimis itu, mama sangan ingat sewaktu kecil kamu suka sekali dengan gerimis”

             Aku terduduk lemas, aku mengerti sekarang. Dunia itu tak benar-benar ada. Dan sekarang aku sudah kembali kedunia asalku.

Selamat tinggal duniaku, semoga kita bisa bertemu lagi saat gerimis datang menjelang.

Penulis:

sooner or later it's over

2 thoughts on “Gerimis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s