Posted in Cerbung

#5

#1

#2

#3

#4

Untuk sampai ke hutan di lereng gunung kita harus menyusuri jalan setapak yang kecil sampai ke ujung jalan kemudian berbelok ke arah semak. Mungkin kau akan mengira jalannya akan berhenti disitu karena rimbunnya semak belukar, kecuali kau sudah terbiasa. Tapi sebetulnya tidak, kita bisa menemukan jalan setapak saat kita berjalan sedikit mumbungkuk sambil menahan semak itu. Ayah yang menaruh semak-semak itu disana sampai tumbuh hingga rimbunnya. Kata ayah ini jalan rahasia, hanya aku dan ayah yang mengetahuinya.

Saat aku kecil, aku selalu menganggap itu adalah jalan rahasia menuju kerajaan sang putri Zennor. Setelah beberapa saat dari jalan setapak itu kita akan menjumpai bukit kecil yang dipenuhi dengan tumbuhan jamur kayu. Aku menyebutnya kebun jamur putri Zennor. Disana terdapat banyak sekali jamur yang tumbuh di akar-akar pohon. Berapa kalipun aku kesana, aku selalu takjub melihatnya. Dari kebun jamur kita bisa melihat hutan sangat dekat, padahal tidak. Itu yang tidak aku mengerti sampai sekarang. Ayah bilang tidak semua bisa dimengerti oleh anak kecil, aku menjadi semakin bingung.

Kita masih harus menuruni lembah curam yang berbatu, lalu pelan-pelan melewati rumput-rumput basah yang dipenuhi dengan bebatuan licin berlumut. Kadang kita harus merapatkan langkahmu saat berjalan untuk tidak terpeleset, kadang pula kita harus melompat karena akan banyak genangan air saat musim hujan. Kadang aku terjatuh saat melompat dan terpeleset disana. Kita harus terus turun sampai melewati sungai kecil di ujung lembah.

Setelah berhasil melintasi sungai kecil, kita sudah dapat melihat pinggiran hutan yang lebat. Kadang aku merinding membayangkan mahluk apa saja yang tinggal didalamnya. Ah, kenapa putri Zennor harus tinggal di dalam hutan? Aku tak mengerti padahal masih banyak tempat yang nyaman untuk didiami, rumah kami contohnya.

Aku sering menanyakan hal tersebut kepada ayah, katanya kaum jin menyukai tempat-tempat menakutkan seperti hutan-hutan yang lebat. Mereka betah disana. Mereka akan merasa nyaman tinggal disana tanpa kawatir akan di ganggu oleh manusia. Ya, kata ayah kaum jin tidak suka dengan manusia.

Saat sudah sampai didalam hutan ayah biasanya akan meninggalkanku dirumah pohon untuk berjalan-jalan di sekitar. Dulu sekali, ayah membuatkanku rumah pohon didalam hutan, dan aku menyukainya. Aku akan bermain seharian disana tanpa memperdulikan apa yang ayah lakukan di dalam hutan saat meninggalkanku di rumah pohon. Ayah akan kembali ke rumah pohon saat sore menjelang dan mengajakku pulang. Hutan itu sudah seperti rumah buat ayah, dia hafal seluk beluk hutan dan tidak akan tersesat didalamnya.

Jadi saat ayah mengatakan akan pergi ke hutan malam-malam, tak ada yang perlu dicemaskan. Ayah tidak akan tersesat ataupun terjatuh karena batu-batu yang licin disana. “Aku mengenal kebun lebat itu beserta isinya” begitu kata ayah.

Tapi malam ini ibu sangat cemas saat ayah mengatakan akan pergi ke gunung.

“Jangan pergi Jaka, ini sudah tengah malam, kita tidur saja.” Kata ibu melarang.

“kau tidak apa-apa kan Mili? Kalau ayah dan ibu pergi keluar?.” Kata ayah sambil menatap ke arahku. Aku menoleh sedikit meminta persetujuan ibu. Ibu menggeleng pelan tanda tidak setuju dengan ayah. Aku menggeleng.

“Tidak apa-apa.” Kataku berbohong. Aku selalu takut tinggal sendirian di malam hari dirumah. Aku tidak mengerti mengapa ayah sangat marah, saat ibu melarangnya pergi.

“Kalau begitu, aku pergi sendiri saja.” Kata ayah marah, sambil berlalu. Wajahnya merah penuh amarah.

“Tidak usah menungguku, mungkin aku akan pulang besok pagi.” Katanya kemudian.

“Jaka.” Kata ibu terisak. Tapi ayah tetapi pergi menyusuri malam dan hilang dalam pelukan malam.

“Waktunya tidur Mili.” Kata ibu sambil membaringkanku di tempat tidur. Aku berharap ayah akan segera pulang, aku berharap ayah tidak menginap digunung seperti ucapannya tadi. Waktu itu aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu kalau malam itu adalah malah terakhir aku melihat ayah. Tapi aku bermimpi, aku bermimpi putri Zennor bernyanyi dan tersenyum ke arahku di rumah pohon.

Bersambung….

Penulis:

sooner or later it's over

One thought on “#5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s