Posted in Cerbung

#3

#1

#2

Sudah lama sejak ayah selalu bercerita tentang sang putri dari kerajaan jin Zennor padaku. Tapi kisah tersebut tertanam begitu dalam di benakku. Aku selalu membayangkan putri Zennor duduk diatas pohon sambil bernyanyi merdu menunggu kekasihnya Jaka, setiap aku melintas di lereng gunung tak jauh dari rumahku saat berangkat dan pulang sekolah. Ya, rumahaku memang berlokasi tak jauh dari sebuah gunung.

Jalan setapak menuju rumahku di lereng gunung sedikit terjal dan berbatu. Aku sudah hafal dengan jalan-jalan di gunung itu. Ayah sering mengajakku sekedar jalan-jalan memasuki hutan saat hari libur.

Sore itu, kami bertiga, aku ayah dan ibu, pulang dari kampung sebelah, mengunjungi kakek nenek disana. Ibu berjalan didepanku, aku merangkul leher ayah erat-erat selain takut jatuh juga karena aku sangat menyayanginya. Bukan aku lebih menyayangi ayah daripada ibu, tapi ibu selalu berjalan tergesa-gesa saat melintas di lereng gunung, jadi aku tidak bisa berlama-lama membayangkan putri Zennor bernyanyi dengan merdu saat aku berjalan dengan ibu.

Kami sampai dijalan setapak yang sangan curam, Ayah menurunkanku saat sampai disini.

“Dengar Mili.” Kata ayah sambil menaruh jari telunjuk di mulutnya, tanda aku harus diam dan mendengarkan dengan seksama, tapi aku tak mendengar apapun. Ia terpaku tanpa suara, sambil melayangkan pandangannya jauh ke dalam hutan, seolah mencari sesuatu. Ibu sudah tak kelihatan lagi, mungkin sudah sampai dirumah.

“Apa ayah? Aku tak mendengar apa- apa” kataku. Ayah tetap diam, sekalipun ayah ada didekatku, aku merasa ayah sudah lupa dengan keberadaanku. Dia seolah terbang entah kemana. Pikirannya melayang jauh.

“Ayah.” Kataku. Tapi ayah tak bergeming.

“Ayah, apa yang ayah dengar.” Sekali lagi aku memanggil ayah sambil menarik-narik lengan bajunya. Perasaanku tidak enak.

“Ayah.” Tapi Ayah tidak menjawab, aku mulai lelah, kedinginan dan menggigil. Aku tau ada yang tidak beres dengan ayah kali ini, meskipun aku tahu ayah selalu seperti ini saat melintasi lereng gunung. Aku hanya ingin pulang, aku akan merasa aman saat sudah sampai di rumah, diatas ranjang empuk dan selimut yang hangat.

“Ayah, ayo kita kejar ibu, ibu sudah jauh di depan kita.” Tapi ayah hanya mengangkat tangan. “sssttt.” Katanya. “dengar Mili.”

Aku mendengarkan, aku mendengar suara burung-burung hantu yang terbang setiap malam. Aku mendengar angin yang bertiup menerpa dedaunan. Saat malam yang tenang pun kau harus memasang telingamu dengan seksama kalau kau tinggal di lereng gunung. Tiupan angin terdengar seperti desahan nafas yang memburu. Aku tidak suka, aku takut.

“Ayah.” Kataku mulai gemetar. Sekali lagi ayah hanya mengangkat tangannya.

Penulis:

sooner or later it's over

3 thoughts on “#3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s