Posted in Cerbung

#6

#1, #2, #3, #4, #5

Keesokan harinya aku terbangun karena mendengar kegaduhan didapur. “Ibu sedang memasak, dan Ayah pasti sudah pulang.” Batinku. Aku beranjak turun dari tempat tidurku mengambil handuk lantas pergi ke kamar mandi. Aku sangat suka dengan sensasi pagi hari. Saat pagi hari semua masalah hari kemaran telah terlewati. Aku meloncat ke bak mandi yang membuat kakiku sedikit terkilir. Aku tidak tahan ingin segera menemui Ayah dan bertanya apa yang terjadi semalam.

“Ayah Ayah……. Ayah dari mana saja?” aku berseru riang sambil berlari ke arah dapur. Aku ingin menunjukkan pada Ayah aku sudah bisa bangun pagi dan mandi sendiri sekarang.

Tidak ada jawaban. Hanya sesekali isakan tangis terdengar. “ ya ampun itu suara ibu, kenapa ibu menangis?” Aku segera menghampiri ibu yang terduduk di sebelah meja sambil menangis.

“Ibu, kenapa ibu menangis? Ayah mana? Apa ayah sudah pulang?.” Aku bertanya hati-hati pada ibu. Aku tidak mengerti dengan orang dewasa, mereka selalu menangis tapi melarang kita anak kecil untuk menangis.

Ibu tidak menjawab. Kemudian beranjak pergi keluar ke arah hutan. Pasti ada sesuatu yang buruk telah terjadi, firasatku mengatakan demikian. Aku mencoba mencari ayah dikebun belakang rumah, tidak ada. Aku kembali mengelilingi rumah mencari apa Ayah sedang mandi atau sedang tidur. Tapi Ayah tetap tidak ada. Aku mulai ketakutan dan berusaha mengejar ibu. Aku butuh penjelasan kemana ayah pergi, apakah ayah belum pulang dari semalam?. Aku mulai berlari menyusuri jalan setapak menuju hutan.

Aku mendengar suara ibu memanggil ayah di sepanjang jalan setapak. Tak ada jawaban. Tetangga kami, Tante mary keluar.

“Ada apa Ratih? Apa ada masalah dengan Jaka?.” Tanyanya.

“oh tidak, tidak ada apa-apa mar. Aku hanya sedang mencari Jaka. Mungkin dia sekarang sedang dihutan, aku akan menyusulnya” Jawab Ibu. Aku menghela nafas lega mendengar jawaban ibu. Itu berarti ayah tidak hilang. Aku sudah terlanjur bingung memikirkan jika Ayah hilang, kemana aku harus mencari? Bagaimana dengan Ibu? Bagaimana dengan kami?.

Ibu terus berjalan menyusuri jalan setapak. Aku sudah tak melihatnya lagi. Langkahnya tergesa-gesa. Aku mengelap keringat kembali kerumah. Aku tidak bisa membayangkan ibu pergi ke hutan, selama ini ibu tidak pernah mau diajak kehutan. Ibu pasti ketakutan disana. Tapi dia tetap melakukannya. Ragu-ragu ibu masuk melalui semak-semak. Dia pergi sejauh ia berani. Ibu terpeleset saat menuruni lembah batu yang curam, tangannya tergores duri rumput liar, bajunya kotor dipenuhi dengan lumpur musim hujan. Aku ingat ayah pernah berkata tidak semua orang dapat menuruni lembah curam tanpa terjatuh. Hanya ayah dan aku yang dapat melewatinya dengan mulus karena hampir tiap hari kami kesana.

Ibu terus memanggil tanpa henti. Meskipun dia tau Ayah tidak disitu. Tapi ibu tetap tak dapat berhenti memanggil sampai akhirnya ibu menyerah dan pulang menjelang malam.

Aku menggigil kedinginan diterpa angin malam musim penghujan di depan rumah sambil menunggu ibu kembali. Aku tidak pernah suka dengan musim hujan, saat musim hujan ayah tidak pernah mau mengajakku pergi kerumah pohon di hutan, terlalu berbahaya katanya. Aku akan menurut sebal meski aku tidak mengerti apa bahayanya.

“ibu… “ Aku memanggil ibu yang muncul dari arah jalan setapak. Dia tidak bicara hanya diam memelukku sambil mengajakku masuk ke dalam rumah.

Ibu tidak menceritakan apapun saat makan malam. Tante mary datang menanyakan apa yang terjadi, tapi ibu hanya diam menahan tangis. Aku tidak mengerti. Ibu hanya menyuruhku untuk segera pergi tidur karena besok pagi aku harus sekolah.

Aku menurut naik ke kamarku, tapi aku tidak pergi tidur, aku menguping pembicaraan ibu dan tante Mary dari tangga kamar paling atas. Ibu menceritakan semua yang tidak ia katakan padaku. Tentang mencari ayah sampai ke pinggiran hutan. Tentang firasat ibu bahwa ayah dekat tapi ibu tak bisa mendatanginya. Aku mulai merinding mendengar cerita ibu. Aku pergi kekamar, menenggelamkan diriku di dalam selimut tebal. Memejamkan mata berharap besok pagi sedikit masalah akan selesai, sedikit saja, tak perlu semua.

Sampai pagi menjelang ayah tak kunjung pulang, aku mencoba mengintip kea rah dapur. Astaga tante Mary dan ibu masih disana, aku mencoba menguping kembali, tapi aku tak mendengar apa-apa selain isakan ibu. Aku menggigil ketakutan, ada apa ini? Apa ayah benar-benar pergi?.

Semalam ibu bilang ayah akan pulang besok pagi, tapi ini sudah pagi dan ayah belum pulang juga. Dengan tangan gemetar aku menyambar handuk dan melompat ke bak mandi. Aku harus turun secepat mungkin untuk bertanya pada ibu.

“Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mar.” aku masih bisa mendengar isakan ibu. Aku tidak bisa konsentrasi saat mandi. Aku mencoba mendengarkan dengan seksama, menunggu tante Mary menyuruh Ibu untuk tenang, karena ayah sudah ribuan kali pergi ke hutan bahkan pada malam hari dan tidak akan terjadi apa-apa tapi tante Mary diam saja. Aku segera berganti dengan seragam sekolah dan turun. Cahaya matahari pagi mulai menerobos melaluli jendela dapur.

“Kita harus telpon Polisi Ratih.” Ucapan tante Mary membuat langkahku terhenti di tengah-tengah tangga.

Aku pergi ke dapur. Ibu tidak melihatku sedikitpun seolah aku tidak ada disana. Aku tau ibu pasti sangat sedih karena ayah tidak pulang. Aku pun begitu. Aku mendekati ibu, tapi ibu tak bergeming. Perlahan aku mulai menarik kursi di meja makan menuntut penjelasan mengenai apa yang terjadi melalui tatapanku.

“Mili sudah mau berangkat sekolah?.” Tante Mary mencoba mengobrol denganku seolah tidak ada apa-apa. Tapi aku mengerti ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Kau tahu? Terkadang anak kecil akan lebih peka terhadap situasi saat kondisi menuntutnya begitu. Dan sekarang aku mengalaminya. Aku tidak berniat meladeni percakapan tidak penting tante Mary.

“Apa ayah sudah pulang bu?.” Aku bertanya pada ibu. Tapi ibu tidak menjawab. Hanya Tante Mary.

“Mili, tante tau kau terlalu kecil untuk mengerti semua ini, tapi tante sudah mengusulkan kepada ibumu untuk melaporkan kehilangan ayahmu ke kantor polisi. Tidak biasanya ayahmu pergi ke hutan lama sekali, ini sudah pagi dan kita bisa mencarinya, kau tenang saja kalau ayahmu ada dirumah pohon polisi pasti bisa menemukannya.” Katanya.

Para tetangga mulai berdatangan mendengar sirine mobil pak polisi yang baru saja datang, ibu bercakap-cakap dengan pak polisi, tante Mary menjelaskan pada tetangga tentang ayah. Aku tidak pergi kesekolah, menunggu ayah pulang. Ibu tidak memarahiku kali ini. Aku tidak bisa makan apa-apa. Penampilan ibu kuyu kekurangan tidur, atau bahkan belum tidur dari kemarin.

Kehidupan bahagiaku bersama ayah dan ibu serasa berhenti seperti jam yang sedang rusak. Aku harus memperbaikinya.

Bersambung……

Penulis:

sooner or later it's over

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s