Posted in Awan biru, pelangi senja, Untukmu

Terima kasih Ibu

“Kamu yakin tidak usah diantar ke Bandara?” Tanya ibu sekali lagi. Seolah memastikan sesuatu. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Barangkali.

“Nggak usah bu, aku sendiri saja. biar ibu nggak bingung pulangnya, ibu kan gak biasa perjalan jauh sendirian, nanti ibu malah kesasar” Sekali lagi juga aku menjawab sambil bercanda mencoba mencairkan suasana. Aku melihat wajah ibuku tersenyum berusaha terlihat normal, tapi seperti menutupi entah apa itu. Seperti tidak ingin memperlihatkan sesuatu.

Tetapi aku mengenal ibuku bukan sekedar seminggu atau sebulan saja. Aku telah mengenalnya sepanjang umurku. aku bisa tahu perasaannya saat senang, sedih atau bahkan saat dia sedang terbebani oleh suatu pikiran. Seperti saat ini aku tahu beliau sedang bimbang melepas kepergian anaknya yang semata wayang. “Percayalah bu anakmu ini akan baik-baik saja di negeri seberang, seperti sebelum-sebelumnya anakmu akan bisa dan pasti bisa survive” Batinku.

Sambil membantu mengepak-ngepak barang Ibu mengecek semua keperluan ku, “Takut ada yang ketinggalan” Katanya.

“Obat pusing sudah beli?” Tanyanya memastikan. Mungkin beliau takut anaknya yang sering sekali pusing ini akan kesulitan menemukan obat pusing disana kelak. Ah ibu, anakmu kan bukan akan pergi ke pedalaman hahaha.

“Sudah bu.” Jawabku.

“Obat Flu?”

“Sudah Bu.” Sekali Lagi mungkin ibu takut anaknya terkena flu mendengar suhu disana sangat berbeda dengan di rumah.

Tinggal satu hari lagi aku berangkat menuju suatu tempat jauh dengan ibu di belahan dunia lain. Ibuku menatapku lekat-lekat sambil tersenyum.

“Yakin ibu nggak usah ikut nganter ke bandara?” Tanyanya sekali lagi. Memastikan.

“Yakin bu.” Jawabku mantap. Aku bukan tidak mau diantar ke bandara, aku hanya memikirkan ibu yang tidak biasa berjalan jauh sendirian. Maklum jika ibu bimbang, dimana sebenarnya hatinya ingin sekali mengantar anaknya tapi seolah tak bisa karena hanya akan menambah kecemasan anaknya jika benar demikian. kondisi tidak pernah perjalanan jauh sendirian, sering bingung tentang arah dan ditambah mudahnya mabuk kendaraan.

Ah ibu, bukankah anakmu ini sudah besar? dia sudah mandiri bu, ibu percaya kan? dimana pun dan kemana pun dia pergi dia pasti bisa bertahan demi Ibu.

Ibu tidak memaksa dan memilih untuk mendoakan saja dari rumah.

“Yang penting itu bukan kehadirannya bukan? tapi Doanya.” Ujarnya sambil tersenyum.

Ibu, engkau memang selalu pintar menenangkan hati anakmu ini.

Aku hanya bisa terdiam, sambil berusaha membalas senyumnya.

Terimakasih ibu…

Terimakasih untuk semuanya…

Semoga anakmu bisa menjadi kebanggaan mu kelak dunia dan akhirat….

Amin…

Penulis:

sooner or later it's over

2 thoughts on “Terima kasih Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s