Posted in Cerbung, Untukmu

#Braja dan Drupadi: Maybe It’s too Late

Semua memori tadi sore seakan tak berhenti mengejarku, atau mengejekku? entahlah. Aku membanting semua berkas-berkas dimeja, Marah. Marahh kepada diriku yang sampai detik ini ternyata masih mengingat masa lalu yang sudah aku nobatkan sebagai hal yang paling tidak penting. Marah kepada diriku yang tidak bisa menahan gejolak tapi tak sanggup melakukan apapun.

Terlalu banyak yang aku pikirkan sampai aku merasa tak bisa memikirkan apapun. Shit, aku mengumpat dalam hati. pikiranku melayang ke segala arah mencoba mencari satu tujuan, Dru.

Aaaaarrrggghhhhh. Kali ini aku tidak hanya membanting semua barang dimeja kerjaku. entah dengan ijin siapa tangan kiriku melayang menghantam jendela kantor.

“Ada apa pak Braja?” Satpam kantor yang kebetulan sedang piket malam ini tergesa-gesa mendatangi ruanganku.

“Tidak apa-apa pak Ujang”. Jawabku sambil berusaha tersenyum.

“Tidak apa-apa gimana? Orang tangan pak Braja berdarah gitu, apa ada maling masuk pak? saya telpon polisi ya?” Pak Ujang terlihat khawatir melihat darah segar di tanganku. Aku tidak peduli, aku tidak merasakan apapun.

“Tidak apa-apa pak Ujang, saya hanya sedang kesal dan tidak terasa memukul jendela”. jawabku malu. Malu karena seorang Braja yang terkenal dengan sikapnya yang tenang tidak bisa mengontrol emosi saat menyangkut soal Drupadi. Akhirnya pak Ujang mengerti dan meninggalkanku sendiri untuk menenangkan diri di ruangan.

pikiranku kembali melayang-layang entah kemana.

 ***

Jakarta, 2014

“Dia sekarang menjadi managing editor sukses di salah satu majalah ternama, Braja. Kemana saja kamu? 4 tahun menghilang”. Aku tidak sengaja bertemu dengan Ana, teman kelompok KKN ku dulu saat di Pedhotan Banyuwangi.

“Aku tidak kemana-mana An. Aku hanya butuh waktu berpikir dan berkembang”. Jawabku.

“Itu bukan alasan, Braja. Kamu pergi menghilang tanpa kabar selama 4 Tahun. menggantungkan hubungan kalian, membiarkan dia menunggu entah sampai kapan waktu itu, dan sekarang kamu tiba-tiba kembali? Demi Tuhan Braja Hati dan perasaan seseorang tidak sebercanda itu.”

“Aku tau aku salah An, Aku terlalu egois waktu itu. Butuh waktu yang cukup lama untuk seorang Braja untuk berpikir, dan sekarang aku tau apa yang aku inginkan dalam hidupku.”

“Aku dengar dia sudah dilamar oleh seorang Bankir sukses, mungkin sebentar lagi mereka menikah. Sudahlah lupakan dia. Kamu tidak ingin merusak kebahagian orang yang kamu sayang dua kali bukan?”

Untuk beberapa lama kami hanya diam. Aku membeku mendengar kata-kata Ana barusan. Menikah? dia Akan menikah? Drupadi akan menikah Braja, dan orang itu bukan kamu, kemana saja kau selama ini? Seperti ada suara-suara tak tau diri yang mengulang-ngulang kata-kata itu bak mantra pembunuh dikepalaku. dan aku semakin jengah.

***

Selama ini aku bersembunyi dari semuanya, dari kenyataan, dari hidup, Drupadi, dan semua orang. Tapi seberapa pun keras aku berusaha sebesar itu pula semua kenangan dan rasa bersalah itu menerobos masuk tanpan memperdulikan ruang dan waktu.

You can erase someone from your mind, but getting them out of your heart is another story.

Akhirnya aku menyerah. Aku mencoba segala cara untuk kembali masuk dalam kehidupannya. Bukan sebagai Braja anak muda yang egois, tetapi sebagai Braja seorang ilmuwan muda sukses yang telah menghasilkan banyak hak paten dan  dengan sekali tepukan bisa membuat wanita manapun bertekuk lutut di hadapannya. Salah satunya dengan meminta wawancara eksklusif dengan majalah tempatnya bekerja.

Aku benci menjadi menyedihkan. Aku benci dikasihani. Dan sekarang aku tidak berguna.

Sebuah nada SMS masuk membuyarkan lamunanku. Pikiranku kacau, aku mengambil jacket dan bergegas memasuki mobil. Tidak, aku tidak bisa begini terus, aku harus menyelesaikan semua ini. Otakku menolak untuk memikirkan apapun, seolah berhenti bekerja untuk urusan ini, aku bergegas turun dari mobil, mengetuk pintu abu-abu itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi.

“Malam Dru.”

“Braja.”

***

Cerita Sebelumnya

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in distress

Teruntuk Enya:

Sebenernya aku juga gak begitu yakin dengan apa yang aku tulis disini. Entahlah saat menulis ini mungkin aku sedang kacau sekacau Braja tentang Drupadi. Tapi aku tetap memaksa, dan hasilnya? I know it Doesn’t make sense anymore, Sorry.

Sekarang aku pasrahkan tongkat estafet itu kembali ketanganmu Dru🙂

Penulis:

sooner or later it's over

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s