Posted in Uncategorized

#Braja dan Drupadi : New Hope

“Dru, Don’t you…… miss us?”

Aku membeku, dia membeku, kami sama sama membeku mendengar ucapan tak terduga yang keluar begitu saja dari mulutku.

“Maaf.”

Aku merasa sedikit lucu terlihat canggung seperti anak kecil yang tidak tahu harus bersikap bagaimana saat hari pertama memasuki sekolah.

It’s okay, mau kopi?” Tawarnya mencairkan suasana. “Diluar masih hujan, yakin mau pulang sekarang? atau masih ingin mengunjungi temanmu dilantai bawah, emm… siapa tadi namanya? Dracula? hahahaha.” tawanya yang renyah seketikan mencairkan suasan canggung beberapa detik lalu.

Aku tersenyum masam, entah terlihat seperti apa. Tak siap dengan respon Drupadi yang seolah mengabaikan beberapa atmosfer warna warni disekeliling kita. Ah untung saja perasaan tak menjelma warna, kalau tidak aku tak tak tahu begaimana sesaknya ruangan ini dengan warna-warna tidak penting itu.

Aku melihat ke sekeliling, acak. menunggu Drupadi membuatkan kopi seerti yang ditawarkannya. Di kaca jendela terpantul bayanganku mengenakan kemeja putih bergaris dan celana hitam. Hujan belum lama berlalu, tapi itu bukan lagi alasan untuku pergi dari apartemen ini.

Pada pantulan yang sama, aku menemukan bayangan diriku beberapa tahun yang lalu. Seorang Braja yang tengah berjuang menggapai impian orang tuanya sedang hatinya dilanda sebuah krisis kebingungan tentang nasibnya. Aku membayangkan andaikan apa yang telah terjadi itu tidak pernah terjadi mungkin posisi saat ini tak lagi membuatku menjadi seorang Braja yang rela pergi tengah malam untuk memperjelas sesuatu, dan dia? mungkin dia bukan Drupadi yang sedang menyiapkan kopi untuk tamunya yang dengan tidak tahu dirinya bertamu tengah malam. Tapi kita adalah keluarga dimana sang istri sedang menyiapkan kopi untuk suaminya sambil mengobrol ringan tentang hal-hal yang tidak penting.

Apa aku terlalu sombong membayangkan semua hal itu terjadi?

What might our life look like if we made different choices? Maybe one day we’ll be able to look into one of these alternative worlds and find out.

“Nih…ngelamun mulu ” Drupadi menyodorkan segelas kopi panas.

“Dru…” Panggilku, dia menoleh sambil menyeruput kopinya.

“hmm?”

“Seperti apa hidup kita sekarang jika dulu kita membuat keputusan yang berbeda?” Tanyaku serius, aku menatap lurus kematanya. Drupadi berpikir sejenak sebelum kemudian tawa renyahnya lepas tak terkendali.

“Hahahaha Aku nggak ngerti, emm mungkin kamu tidak duduk di sofa ini tapi di sofa sebelah sana.” Katanya sambil menunjuk sofa berwarna coklat di pojok ruangan.

“Kamu pernah mendengar “Many Interacting worlds” Dru?”

“hemm? Maksudmu ada dunia lain selain dunia kita?”

” Iya, Teori yang menjelaskan tidak hanya tentang adanya dunia paralel,  tetapi mereka berinteraksi dengan dunia kita pada tingkat kuantum”

Okey Mr. Scientist what are you up to actually?” Tanyanya dengan tampang malas. Aku mengerti dia pasti tak berminat dengan teori yang menurutku “sugar-honey-ice-tea” dan aku menikmati wajah bingungnya itu, manis.

“Hahahaha aku penasaran di dunia yang satunya Drupadi yang lain sedang apa, Braja yang lain hidupnya seperti apa?”

“Jadi maksudmu  kamu datang ke apartemenku ditengah malam, pada waktu hujan deras, dan berpura-pura meminjam kamar mandi hanya untuk menjelaskan teori… emmm” Dru memutar bola matanya.

“Sugar-honey-ice-tea” lanjutku dengan cepat, yang menambah raut kejengkelan di wajahnya. Aku tersenyum.

“Maksudku, Apakah didunia lain Braja dan Drupadi bernasib seperti ini?  Jika didunia lain itu Braja tidak cukup bodoh untuk mengambil keputusan seperti Braja disini, mungkin Braja dan Drupadi disana sedang hidup bahagia”

Drupadi terpaku.

Dia tidak mencegahku melangkah pergi, bahkan dia juga tak mengantar sampai kedepan pintu.

“Bodoh… bodoh… bodoh, kebodohan apalagi yang sudah kamu perbuat Braja?”

***

Taraaaa… akhirnya selesai, oke Dru now’s your turn again hahahaha:mrgreen:

Cerita Sebelumnya (Sumpill Berasa sinetrongg)

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in distress

#6 Braja dan Drupadi : Maybe It’s too Late

#7 Braja dan Drupadi : The Way We Were

Penulis:

sooner or later it's over

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s