Posted in Duniaku, Uncategorized

Terima Kasih

Oleh semua orang saya disebut-sebut sebagai seorang yang beruntung karena dianggap tanpa banyak usaha saya berhasil lulus dari salah satu universitas ternama di Indonesia, dan kemudian diterima untuk melanjutkan studi master di luar negeri lewat jalur beasiswa. Bahkan ada teman seangkatan saya yang sering kali berkata skripsi saya adalah skripsi paling mudah. Dan saya hanya dapat tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Hanya saya yang tau seberapa besar perjuangan saya untuk lulus dari kampus ini.

Dan oleh salah satu dosen saya yang mengatakan kalau saya tidak mungkin mendapat beasiswa apalagi keluar negeri karena kecilnya ipk saya kecuali saya menggunakan biaya pribadi, saya diakui sebagai anak bimbingnya saat pergi silaturahmi ke kampus dan memberitahukan kabar beasiswa saya, Alhamdulillah.

Sebagian orang menanggapi hal tersebut secara positif, sebagian lagi negative. Saya tidak tau apa yang mendasari pemikiran mereka hingga menjadi pikiran yang positif yang membesar-besarkan saya pun negative yang merendah-rendahkan saya. Dan kebanyakan yang saya tahu adalah mereka yang mempunyai pikiran negative tentang hidup saya.

Hingga detik saya akan berangkat masih ada saja tetangga-tetangga dan bahkan salah satu kerabat saya yang menyampaikan ketidak sukaannya terhadapa apa yang akan saya jalani. Melanjutkan Master Degree di Taiwan.

“Ngapain sih sekolah aja pake jauh-jauh ke luar negeri? Gak kasihan sama ibumu?”

“Punya uang itu mbok ya ditabung buat masa depan, bukan untuk dihambur-hamburkan untuk hal yang tidak perlu kayak gini, meskipun kamu dapat beasiswa kamu pikir beli tiket, ngurus ini itu tidak memerlukan biaya?”

Dan hal-hal lain yang digunakan untuk ucapan selamat jalan saya alih alih semoga sukses, semoga semua lancar, dll. Mungkin karena mereka belum mengerti tentang pentingnya pendidikan sehingga mereka berkesimpulan bahwa pendidikan apalagi jauh kenegeri seberang bukanlah hal yang penting.

Orang berpendidikan akan menyebut mereka orang awam, begitupun dengan saya. Dan dengan alasan itupun saya memaafkan kata-kata mereka.

“Sudah tidak usah dipikirkan, namanya juga orang desa mana tau mereka dengan sekolah? Mereka tidak menyumbang, semua kebutuhanmu kamu berusaha sendiri, jadi tidak usah didengarkan. Buktikan saja dengan menjadi orang yang sukses saat kamu pulang nanti.” Ibu, satu-satunya orang awam yang tidak menentang dan bahkan selalu mendukung saya untuk terus mengejar mimpi saya.

Penulis:

sooner or later it's over

11 thoughts on “Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s