Posted in abu-abu, Cerbung, Duniaku, Untukmu

#10 Braja dan Drupadi : A thousand Memories

Aku tahu semua ini salah, dari awal. aku pernah menghancurkan hidupnya, menghempaskan harapannya, demi mengedepankan egoku. Kini dia sudah bahagia dengan orang yang mampu membahagiakannya, dengan duniannya, dunia yang tak ada “Braja” didalamnya.

Dan sekarang aku hadir lagi? jika semua ini kulanjutkan aku tahu bagaimana akhirnya, aku hanya akan merusak kebahagiaannya, lagi. untuk kedua kali.

Andai saja aku punya kesempatan kedua………

Aku meraih handphone yang sedari tadi hanya ku mainkan diatas meja kerjaku.

“Halo.” Suara yang terdengar letih. Alih-alih menanyakan apa yang selama ini ingin aku sampaikan, aku malah kehabisan kata, dan hanya pertanyaan konyol yang keluar dari mulutku.

“Emm… Dru, are you ok?”

“Braja, do you really need to say that right now? Aku jawab tidak, kamu tahu, aku sedang sibuk, Deadline, Jess, Bu andin, dan lalala masih banyak lagi, clear?”

“emm, ok sor..” sambungan terputus. “ry… Dru”

Aku kembali terpaku…..

kring……

“Hallo, Dru?”

“Dru? Braja ini Ana, Bukan Dru”

“Ah Ana, Sorry, aku kira Dru”

“That’s ok, Jadi gimana?”

“Apa?”

“Kamu yang memintaku untuk bertemu denganmu hari ini, dan kamu tanya ‘apa’?”

“Ah sorry Ana, aku lupa aku ada janji hari ini, bisa kita tunda lain kali?”

“Ok aku mengerti, kita bisa atur lain kali, bye… ah ya kamu butuh berlibur Braja, sepertinya kamu tidak fokus bekerja”

Sambungan terputus. dan aku kembali termenung. Tidak, aku tak butuh liburan, aku butuh Jawaban.

***

“Hai Dru-yang-begitu, mau sampai kapan lari-lari di fikiranku hah? apa kamu gak capek?” Kamu tersenyum tersipu. Dia tahu, aku suka menggombal, dan aku tahu dia suka itu.

“Katamu, kamu ingin menjadikanku objek utamamu, alasan utamamu selain dua alasan utama lain untuk meneruskan impian lugumu. Kataku, kamu adalah Sapardiku Jadi bagaimana bisa kau memintaku untuk berhenti berlari difikiranmu?” Kamu balik membalas kata-kataku, telak. Membuatku balik tersipu.

Mengingat semua itu aku tersenyum, tak sengaja mengusap air mataku. Terharu. ada rasa sesal, marah, sedih dan entah apa lagi semua itu teraduk menjadi satu atas nama rindu.

Kini … apakah seperti itu?

***

“DRU!!!” Aku bertieriak dari seberang jalan sesaat setelah melihatnya turun dari mobil, dia tampak baru saja menutup telpon genggamnya, juga tampak emm sangat sibuk. Aku melambai-ambaikan tanganku, entahlah terlihat seperti apa aku tak peduli.

kringggg..

“Halo, Braja? Kamu ngomong sama aku?” Dia menelpon dari seberang jalan.

““Iya. Kamu nggak mau ngomong sama aku?” Jawabku konyol.

““Kalau sekarang, nggak. Aku banyak kerjaan. Maaf, deadline dan hal lainnya. Kalau ini hal penting tunggu aku sampai pekerjaanku selesai.” dia diam sejenak. “tunggu, ini bukan soal kamu menuntutku yang nggak jadi menampilkanmu di halaman profil, ‘kan? Karena aku akan balik menuntutmu.” sepertinya dia benar-benar sibuk sampai tak bisa membedakan mana kesal dan mana rindu, Ah Drupadi, kenapa kamu mendadak begitu lugu?

“Aku akan menunggumu” Aku membalasnya sambil tersenyum.

aku menunggunya hingga malam tiba. Jam dua belas lewat tiga puluh menit dia keluar dari gedung. Aku duduk melipat kedua kakiku ke dada, menyatukan lutut dan kepala, di sofa ungu panjang lobby gedungnya. Jika bukan demi bertemu seorang Dru yang sudah membuatku ridu, sungguh aku pasti sudah berada diatas kasur yang empuk dan selimut hangat di apartemenku.

Tiba-tiba saja Ketakmasukakalan berlangsung hingga belasan detik, Drupadi menyentuhkan bibirnya yang lembut pada bibirku, dua tangannya yang tak kosong telah menarik punggungku mendekat padanya, dan saat itulah aku melihat sebuah cincin di jari tangan kirinya.

Aku tertegun, Dia berbalik, pergi.

*******

aakkkk Enya, setelah sekian abad akhirnya aku selesai, maaf atas keterlambatan yang sangat sebentar hingga membuatmu menunggu sambil menyelamatkan dunia, and here it is hahahaha

Cerita Sebelumnya :

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in distress

#6 Braja dan Drupadi : Maybe It’s too Late

#7 Braja dan Drupadi : The Way We Were

#8 Braja dan Drupadi: New Hope

#9 Braja dan Drupadi: Kita, Kenangan dan Perahu kertas

Penulis:

sooner or later it's over

2 thoughts on “#10 Braja dan Drupadi : A thousand Memories

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s