Posted in FlashFiction, pelangi senja

Prompt #109 : Tuhan, Tolong Aku

mWYWPssq.jpg large

Tuttt…

Samar-samar aku mendengar suara kereta api, aku mencoba mencari asal sumber suara, gelap, tak ada apapun. Ketakutan semakin menyelimutiku.

“Ibu…. Ibu dimana?” Aku tak berani bersuara, hanya bisa berharap ibu mendengar panggilan hatiku.

Tuttt…

            Suara kereta api itu terasa semakin dekat.

“Tuhan, selamatkanlah aku”. Kembali aku berbisik, lebih kepada diriku sendiri. Kau tahu sejahat-jahatnya manusia pasti akan mengingat Tuhan saat sedang kepepet.

            Aku pernah mendengar dari Ustadz saat aku mengikuti pengajian dibelakang rumah. Katanya seberapa pelan pun, dimana pun, dan kapan pun kita berdoa Tuhan pasti mendengar kita. Dan aku berharap kali ini Tuhan mendengarku, kali ini saja. Tidak lama kemudian seberkas cahaya menyilaukan seolah menhantam mataku. Ia seperti menusuk-nusuk jauh kedalam memori.

“Aku mengenal ini, aku mengenal perasaan ini”. Batinku. Tanpa menoleh aku terus berlari sekuat tenaga, bumi menyempit, peluh bercucuran, ritme nafasku pun tidak beraturan. Samar-samar aku mendengar suara ibu memanggil-memanggil.

“Ibu, Ibu dimana?” Entah seperti apa aku tak peduli, aku terus berlari sambil meraung-raung ketakutan sambil memanggil nama Ibu.

“Tuhan, kenapa Kau tak mendengar doa ku?” Aku terus berlari ketakutan, cahaya itu tetap mengejarku bersamaan dengan bumi yang juga menyempit di samping kanan-kiriku.

“Aku tidak akan selamat, aku tidak akan selamat”. Batinku. Aku merasakan langkahku semakin lemah, detak jantungku pun tak bisa ku dengar, nafasku tercekat.

***

“Luna, Luna, bangun nak”.

“Ibu?” Dengan nafas terengah-egah aku melihat Ibuku, bingung.

“Iya ini Ibu, kamu mimpi apa sayang?”

Penulis:

sooner or later it's over

4 thoughts on “Prompt #109 : Tuhan, Tolong Aku

    1. Hai juga ^_^

      Luna bermimpi seolah dikejar sesuatu yang membuat dia merasa ketakutan, bukan dosa tapi sesuatu.
      ceritanya aneh ya? ehehe saya masih amatiran, harap maklum:mrgreen:

      1. bukan aneh, ilmi, tapi belum fokus. sebaiknya pembaca diberikan petunjuk soal apa penyebab mimpi. misalnya dengan kalimat : Luna terdiam. Teringat ia pada pengemis yang ia tinggalkan begitu saja setelah jatuh tersenggol motornya.

        nah, jadi pembaca mengerti. “Ooh, jadi Luna dikejar perasaan bersalah gara-gara peristiwa siang tadi.”

        Selamat menulis.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s