Posted in FlashFiction, Prompt

Aku Bukan Boneka

Aku kembali merangkak pada lobang yang aku temui kemarin siang. Kemarin aku hanya berani mengintip, tapi sekarang aku harus masuk, harus. Setelah aku pastikan aku telah mengunci pintu kamarku agar tak ada yang mengetahui apa yang akan aku lakukan, aku mulai membuka lemari dan merangkak pada lobang itu. Gelap, tak ada tanda-tanda ada sesuatu disana, selain panggilan yang mendayu-dayu memanggil namaku kuat. Seolah tersihir aku terus menyusuri lobang yang lebih mirip dengan gorong-gorong tikus itu. Aku masih heran kenapa lobang ini ada didalam kamarku.

Aku merasa sudah berjam-jam aku merangkak sampai akhirnya aku menemui ujung yang diliputi cahaya menyilaukan. Perlahan aku mencoba membuka jarring penutup ujung lobang ini.

“Kota boneka” aku berkata dalam hati saat melihat seluruh isi kota ini adalah boneka. Mereka berjalan, bercakap-cakap, mengendarai mobil, memakai jeans model terbaru dan bahkan memakai ponsel canggih seperti punya Ayah.
Aku berjalan menuju taman bunga diseberang jalan. Para anak-anak boneka itu sedang bermain ceria. Mereka seolah menjalani kehidupan normal seperti yang aku jalani dirumah. Kota apa ini sebenarnya?

Ditengah keramain taman yang menjadi pusat bermain para anak-anak boneka, aku mencoba mendekat takjub, tapi.. tunggu, mereka sedang bermain menggunakan anak-anak sebagai bonekanya? Aku terkejut, tak sengaja aku menginjak beberapa kaleng minuman bersoda, dan membuat mereka serentak menoleh kearahku

“Lihat, boneka itu bisa berjalan.” Seru salah satu boneka.
“A…apa? Boneka? Aku boneka?” aku bergidik ketakutan ketika melihat wajah-wajah para anak-anak boneka terheran-heran melihatku.

Dunia apa ini? Kenapa disini semua terbalik?

“Ayah, aku mau boneka yang itu.” Seru salah satu anak boneka kepada ayahnya sambil menunjuk kearahku. Aku mulai ketakutan ketika orang tersebut mendekatiku sembari membawa kancing dan jarum yang sanga besar.
“Iya sayang, Ayah bawakan bonekanya ya, tapi kita harus mengganti matanya terlebih dahulu, dia terlihat seperti boneka jahat,” Serunya dengan dua kancing di tangannya.
Aku berlari sekuat tenaga tanpa memperdulikan teriakan heran para boneka-boneka itu
“Dia berlari- dia berlari.” Seru salah satu dari mereka sambil berduyun-duyun mengejarku.
“Aku harus kembali.” Batinku. Aku berlari mencari lobang tempat aku keluar. “Ah itu dia.” Aku menemukannya. Aku melompat kedalam lobang persis sebelum jarum-jarum itu terlempar kearahku.

Aku kembali melewati gorong-gorong hitam pekat yang seakan tak berujung, dan berakhir kembali dikamarku.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” Mama menerobos masuk mendengar suara dentuman keras dikamarku. Aku mengatur nafasku.

“Iya ma, Luna hanya mimpi buruk tadi.” Seruku berbohong.

Penulis:

sooner or later it's over

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s