Posted in FlashFiction, IlmidanEnya, Prompt

CONTINUE THE STORY WRITING CHALLENGE #2

prompt 4

“Who’s dancing and why are they tapping those toes?” Suara di kepalaku terasa semakin keras.

Aku baru beberapa hari menempati rumah mungil ini, terletak dipinggiran kota jauh dari hiruk pikuk ibu kota Taipei. Tidak sealami atau sesegar yang kalian duga, meskipun terletak dipinggiran kota, daerah ini masih bisa diakses dengan mudah menggunakan MRT ataupun Bus. Asap-asap masih banyak beterbangan disini, tapi lumayanlah untuk sejenak kabur dari rutinitas dan keramaian kota Taipei.

Sekali lagi aku memasang telingaku dengan seksama, hening.

“Ah mungkin aku salah dengar.” Batinku. Aku meneruskan menuju dapur, entah kenapa akhir-akhir ini aku sering kehausan tengah malam.

Tap tap tap..

“Suara sepatu itu lagi.” Batinku. Aku menoleh mencoba mencari asala suara, sepertinya dari jendela. Bukan. “Mungkin dari Ruang tengah.” Aku berjinjit berjalan sepelan mungkin sambil menepis segala ketidak mungkinan tersebut berharap aku hanya salah dengar. Mana mungkin dirumah kecil yang aku tinggali senidiri ini ada orang yang leluasa keluar-masuk? dan … Menari?

⁠⁠⁠⁠Alasan lain yang membuatku memilih rumah mungil ini adalah dapur rumah. Dengan rak pohon oak serta ukiran bunga pada sekelilingnya, panci-panci mengkilat berjajar. Suara bisikan kulkas diantara keheningan malam membuatku mengingat rumah kecilku. Rumah kecil yang selalu penuh suara minyak memercik, air mendidih, serta aroma ibu dalam telur orak-arik miliknya.

Kakiku bergemeretak ketika menginjak lantai kayu rumah. Dengan tangan aku menyentuh dingin panci. Masih jam dua malam, dan aku telah ingin mencium telur orak-arik ibu.
Maka kutemukan diriku memecah telur di atas panci sembari mengaduknya dengan mentega dan saus asam manis secara perlahan. Tanpa sadar aku bergumam sembari mengetukkan kakiku.

Gumamanku terhenti ketika kudengar kaki lain mengetuk membentuk nada.

Tap. Tap. Tap. Suaranya ringan dan berpindah-pindah. Tap. Tap. Tap. Suara itu mendekat. Tap. Tap. Tap. Kini aku juga mendengar suara kain yang terkibas layaknya balerina yang berputar-putar.

Sudah beberapa malam aku seperti hidup dengan manusia lain didalam rumahku sendiri. Dengan orang asing, tidak, apakah aku yang orang asing mengganggu kehidupan mereka?

Sudah beberap malam pula aku terbangun tengah malam, pukul dua sepereempat, tidak untuk telur orak arik aroma ibu yang seperti aku rindukan biasanya tapi karena suara sepatu berdansa itu.

“Malam ini aku harus tau siapa orangnya, harus.” aku meyakinkan diriku ini bukan hanya sekedar ilusiku semata.
5 menit, 10 menit, 30 menit, dan sudah satu jam tapi sepatu berdansa itu tak terdengar. Aku butuh udara segar.

Di luar jendela berlatar belakang corong-corong tinggi pabrik yang terlelap kabut bergeser tipis sementara bulan tertutup awan merah, pertanda hujan akan menyambut pagi hari nanti.

Langkah kaki ringan tersebut biasanya muncul di depan ruang tamu, merangsek masuk hingga ke kamar tidurku yang terletak di belakang dapur lalu menghilang tepat pada pukul empat pagi.

Kopi yang kuseduh telah dingin, begitu pula suhu rumah yang turun drastis menjelang fajar.

Persetan. Aku meraih jaket, syal, serta sarung tanganku. Kubuka jendela yang ada tepat di depan ruang tamu.

Udara dingin berhembus hingga ke tulang dan aku menyesali perbuatan bodohku ini.

“Baiklah, kamu, atau siapapun itu … tidak mau muncul malam ini? Terserah. Hanya saja, tolong jangan ganggu tidurku dengan menari di tengah malam. Menarilah di siang hari atau ketika aku keluar, oke?”
Saat itu juga aku merasakan angin dari belakang telingaku berhembus menuju luar jendela. Rambut panjangku terburai terkena angin tiba-tiba tersebut menutupi wajahku.

Ketika angin berhenti di luar jendela, berdiri di jalan depan rumahku dalam sepatu balet merah muda dan rok tutu, seorang gadis tersenyum padaku.

Seakan tersihir aku tersenyum kembali padanya.
“Siapa kamu?” Tanyaku, aku tak bisa mendengar suaraku sendiri, tapi dia tersenyum seolah mengerti.

Dia mulai menari kembali tanpa musik tapi berirama, pelan tapi menghanyutkan. Aku mulai tersihir dari balik jendela.

Dia menghentakkan sepatunya, tap tap tap, rok tutunya berkibar dihembus angin fajar. Tap tap tap, dia mulai berputar-putar. Tap tap tap dia berputar, melompat kemudian menghilang.

Dia menghilang bersama pagi. Itu yang kuceritakan pada sahabatku melalui telepon.

Sahabatku bersikeras agar aku pindah dari rumah itu, “apa persamaan bekerja dengan chef yang suka mengumpat dengan tinggal bersama hantu? Dua-duanya nggak mengenal kata ‘damai’!”

Itu sudah tiga hari yang lalu. Gadis mungil misterius dengan sepatu baletnya tidak pernah nampak lagi setelahnya.

*
Aku telah melupakan gadis dengan senyum misterius itu hingga aku pergi ke pasar swalayan untuk mengisi kulkasku yang telah kosong.

Ketika aku memilih daging seorang ibu menepuk pundakku. Dia memakai pakaian tahun 80an, begitu juga dengan rambutnya.
“Apa kamu yang menempati rumah di ujung pertigaan itu?”
“Iya,” aku membungkukkan badan, “Nama saya …,”
“Hati-hati,” bisiknya memotong kalimatku, “jangan keluar kamar di malam hari. Dan kalau kamu mulai mendengar sesuatu teriak saja … atau, telepon aku.” Dia menuliskan nomor teleponnya di atas kertas lalu pergi tanpa mengucap apapun.
Kumasukkan kertas pemberiannya ke saku celana. Tidak sopan.

Pukul 00.39 aku mulai kehausan seperti biasa. Aku beranjak menuju dapur.

Tap tap tap ….
“Suara sepatu itu lagi.” Batinku panik. Seketika aku mengingat ucapan ibu misterius di pasar swalayan.

“Telpon, iya telpon.” aku mulai mencari nomor telpon secara random, aku mulai tidak sabar membongkar-bongkar celana yang aku pakai tadi siang.

“Sial, harusnya disini, tapi kemana?” Aku tidak bisa menemukan nomor telpon ibu tersebut.

Tap tap tap

Suara sepatu berdansa itu semakin keras. Aku meringkuk di pinggir tempat tidur, ketakutaan.

Tap tap tap

“Tolong jangan ganggu aku, jangan.” Batinku berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Tenggorokanku tercekat.

Bagaimana kabarmu?
Cream puff hangat, kopi di pagi yang dingin, suara daun berjatuhan, dari semua hal yang kusenangi kalimat itulah yang terlintas di pikiranku.
Muncul bersama mata sedalam lautan serta senyum misterius.
bagaimana kabarmu?
pesan singkat yang kuterima tepat sebelum tengah malam. Yang semula hanya menjadi kemustahilan. Pesan yang kukira akan kulupakan justru muncul ketika ketukan kaki menari semakin dekat di telingaku.
Tap. Tap. Tap. bagaimana kabarmu?
Segalanya sungguh membingungkan.
Tap. Tap. Tap. Aku tidak dapat menemukan nomor telepon ibu tidak sopan tersebut.
Tap ….
Tap ….
Tap ….
Angin semakin kencang dari luar kamar meski jendela dan pintu tertutup rapat.
Tap ….
Tap ….
Tidak lagi ringan kini langkahnya terdengar berat dan tergesa-gesa. Tap-tap-tap. Tergesa dan penuh amarah.
bagaimana kabarmu?
Jika itu adalah ingatan terakhir yang dapat kuciptakan sebelum langkah kaki sialan tersebut melahapku maka aku sungguh tidak beruntung.
Dari sisi belakang pintu kamarku terbuka, secarik kertas terbang tepat ke atas telapak tanganku yang basah.
Tap. Tap. Tap. Jejak sepatu terbentuk di lantai kayu berderik.
bagaimana kabarmu? tentu, tentu aku tidak baik-baik saja! Aku melarikan diri darimu karena tidak baik-baik saja! Aku ke kota sialan ini karena tidak baik-baik saja! Aku bertahan di sini meskipun suara itu terus mengikutiku karena aku tidak baik-baik saja!
T … a … p ….
Tidak lagi terdengar langkah itu melainkan desahan halus serta sentuhan lembut mengalir ke kaki, lengan, hingga berhenti pada leher kemudian mencengkeramnya.
Aku. Sungguh. Tidak. Baik-baik. Saja.
Setelah kujawab pesan tersebut dalam hati aku melihat kegelapan. Sebelum si pemilik langkah misterius tersenyum penuh kemenangan.

_Tamat_


***
Continue The Story Challenge hadir lagi dengan prompt yang berbeda tapi masih dengan aturan yang sama seperti sebelumnya, aturan sebelumnya bisa dilihat disini . Selamat menikmati cerita hasil kejar-kejaran saya dan Enya:mrgreen:

Perbedaan warna menunjukkan penulis yang berbeda
Biru : Ilmi
Merah : Enya

Penulis:

sooner or later it's over

2 thoughts on “CONTINUE THE STORY WRITING CHALLENGE #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s