Posted in Cerbung, IlmidanEnya, Untukmu

#12 Braja dan Drupadi : Will It End?

braja

Setelah perdebatan keras malam itu dirumah Santi, dan sampai setelah pesta gelembung sabun sebagai penanda hari terakhir KKN kami didesa Pedotan, di Ujung pulau Jawa, Aku terdiam. Kepada semua orang termasuk Drupadi.

Aku berhasil meyakinkan orang tua Santi bahwa Santi akan memiliki masa depan yang lebih cerah dengan pendidikan. Aku berhasil meyakinkan semua teman-teman untuk bersama membantu memberikan beasiswa kepada Santi. Tapi aku tak berhasil meyakinkan perasaanku.

“Kita bukan teman.” Katamu pada akhirnya. “entah apa yang ada di pikiranmu tapi kita bukan teman. Teman … tidak seperti ini Braja. Teman tidak saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Teman, tidak menginginkan seseorang untuk dirinya sendiri, seutuhnya. Seperti aku kepadamu. Kita. Bukan teman.”

“Kita bukan teman.” Aku mengulang perkataan Drupadi setelah pesta gelembung, Dalam hati.

Halaman sekolah yang semula gersang oleh rumput kering kini basah oleh bekas gelembung sabun, menimbulkan cipratan warna-warni pada genangannya. Beberapa anak masih kegirangan dengan lukisan gelembung sabun milik mereka, mereka berusaha mengangkat kertas setengah basah tersebut dengan penuh kehati-hatian sementara baju yang mereka kenakan tak nampak lagi warna aslinya.

Aku duduk di teras ruang kepala sekolah mengamati beberapa anak yang masih nampak sangat bahagia berlarian kesana -kesini sambil menciprat-cipratkan sabun.

***

Dia berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

Aku tertegun dan tak melarangnya pergi, seperti dulu.

“Cincin itu, apa itu berarti aku tak punya kesempatan lagi? bahkan kesempatan kedua yang aku usahaka dengan susah payah juga?”

Setelah malam itu aku tak pernah menghubunginya. Aku sibuk berkutat dengan pikiranku sendiri. Kelemahanku adalah aku tak pernah bisa memahami perasaanku sendiri.

kring kring…

“Halo?”

“Halo Braja?”

“Ana?”

“Ya, jadi kita ketemu malam ini?”

Aku sudah membulatkan tekatku, aku harus menyelesaikan semua ini.

“Oke Ana, kita ketemu di Cofee biasa ya.” telpon terputus.

_Tamat_

*Ngambang bgt ya nya, hahaha sorry Enya. Waktunya enya yang membumbui cerita hahaha

Cerita sebelumnya :

#1 Braja dan Drupadi: Man from the Past

#2 Braja dan Drupadi: She is Back

#3 Braja dan Drupadi: Interlude

#4 Braja dan Drupadi: Dilatasi Memori

#5 Braja dan Drupadi: Damsel in distress

#6 Braja dan Drupadi : Maybe It’s too Late

#7 Braja dan Drupadi : The Way We Were

#8 Braja dan Drupadi: New Hope

#9 Braja dan Drupadi: Kita, Kenangan, dan Perahu Kertas

#10 Braja dan Drupadi: A Thousand Memories

#11 Braja dan Drupadi : No, we are not friends

Penulis:

sooner or later it's over

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s